Detail Artikel

Detail Artikel


HANTA VIRUS

Waktu Publish :2023-10-05 08:16:52, Oleh : dr. Asri Priyani M, MPH

Sumber foto : https://www.alodokter.com/hantavirus

Akhir akhir ini apakah anda mengalami flu, demam, pilek batuk yang tidak kunjung membaik? Jangan-jangan anda mengalami penyakit Hantavirus…apa itu Hantavirus ? Mungkin itu yang ada dibenak anda, virus baru lagi kah? Akan jadi pandemi baru kah? Yuk kita coba simak beberapa hal tentang Hantavirus ini.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dalam kelompok genus Hantavirus serta ditularkan melalui rodensia seperti tikus dan celurut. Sampai hari ini, Hantavirus sudah tersebar pada berbagai negara di dunia termasuk di Indonesia. Persebaran Hantavirus di Indonesia pada hewan dan manusia belum  terlalu banyak diketahui, walaupun beberapa   kasus telah ada. 

Sosialisasi dan Workshop Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Virus Hanta  diselenggarakan oleh Kementrian Kesehatan pada hari Senin tanggal 2 Oktober 2023. Hal ini dilaksanakan dalam rangka memberikan informasi dan tata kelola Penyakit Hantavirus bagi seluruh pelayanan kesehatan di Indonesia.  

Berdasarkan hasil kajian Treats and Hazards Identification Risk Assessment (THIRA) tahun 2017 penyakit Hantavirus ditetapkan sebagai salah satu penyakit infeksi emerging prioritas di Indonesia. Keberadaan orthohantavirus pada reservoir di Indonesia telah dilaporkan di berbagai tipe habitat. Namun demikian keberadaan Orthohantavirus di Indonesia pada manusia masih belum banyak diketahui. 

Human HantaVirus Infection manifestasi nya atipikal seperti penyakit virus lain seperti infeksi virus dengue, leptospirosis, rickettsiosis. Para dokter harus lebih banyak waspada tentang diagnosis penyakit ini.

Suspek penyakit Hantavirus dapat diidentifikasi dengan adanya Demam akut (≥ 38,5° C) atau ada Riwayat demam dalam 3-8 hari terakhir dengan disertai minimal 2 gejala / tanda berikut : 

1.      Sakit kepala

2.      Nyeri otot

3.      Lemas 

4.      Ikterik ( kuning )

5.      Sesak nafas

6.      Perdarahan ( muntah darah, BAB darah/ kehitaman, BAK darah / kemerahan, bintik merah atau ruam kemerahan di kulit, mimisan, perdarahan di konjungtiva mata

7.      BAK berkurang

8.      Pandangan mendadak berkurang ( Miopia akut)

9.      Nyeri perut, mual muntah

Dan disertai hasil Laboratorium setidaknya menunjukkan adanya minimal 2 kelainan seperti 

1.      Proteinuria

2.      Leukositosis

3.      Trombositopenia

4.      Peningkatan kadar BUN

5.      Peningkatan SGOT/SGPT lebih dari 3 kali nilai normal atas

6.      Disertai gangguan fungsi ginjal

7.      Hipotensi dan hingga dapat menyebabkan syok. 

Hal lain yang harus diperhatikan adalah adanya riwayat terpapar lingkungan terkontaminasi atau aktivitas yang merupakan faktor risiko dalam 2 minggu sebelumnya yaitu kontak langsung dengan reservoir utama ( tikus dan celurut ), kontak dengan benda/ hewan/menghirup udara yang terkontaminasi cairan reservoir utama (feses, urin, saliva)

Sindrom klinis yang merupakan khas penyakit ini adalah

1.      HFRS (Haemorrhagic fever with renal syndrome) yang merupakan manifestasi klinis Hantavirus yang mengakibatkan seseorang mengalami gangguan ginjal akut, dimana  banyak muncul di benua Asia dan Eropa 

2.      HCPS (Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome) dapat merusak jantung, paru-paru dan organ lainnya dimana kondisi ini  berkembang dengan cepat dan bisa berakibat fatal. HCPS banyak ditemukan di benua Amerika, 

Bentuk lain yang jarang adalah Neuropathic Epidemika (NE) yang merupakan bentuk klinis paling ringan dari HFRS, dengan klinis utama gangguan ginjal akut dan trombositopenia. Dimana NE ini disebabkan oleh Virus Hanta Puumala (PUUV) laporan pertama muncul di Swedia tahun 1930.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyebaran Hantavirus ini? Pengendalian reservoir dapat dilakukan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri sesuai dengan penilaian risiko seperti baju pelindung, sarung tangan, masker, sepatu boots dll.

Perbaikan sanitasi lingkungan juga perlu dilaksanakan, diantaranya adalah dengan menjaga rumah rapi dan bersih, menutup lubang pipa pembuangan air dan penghalang pada talang air, menutup dan menyimpan makanan dengan baik, rat proofing ( mencegah masuknya tikus), memotong ranting pohon yang berhubungan dengan rumah, mengelola sampah dengan benar, memastikan bak sampah penutup berjarak 45 cm dari tanah, tandon air tertutup rapat dan drainage berjalan baik.

Pengendalian reservoir dapat pula dilakukan secara mekanik dengan menggunakan live trap (perangkap hidup) di dalam rumah, dengan jumlah perangkap minimal 2 dan dipasang minimal 5 hari, dipasang di tempat yang sering didatangi ( cek apakah terlihat bekas telapak kaki, bekas urine, kotoran, sisa makanan dan bunyi fisik), menggunakan umpan kelapa bakar , ikan asin yang diganti 2 hari sekali, pemasangan perangkap di sore hari dilihat kembali pagi hari nya, jika reservoir tertangkap maka cara mematikan adalah dengan menenggelamkan perangkap ke dalam desinfektan klorin dan bangkai dikubur dalam tanah dengan kedalaman +/-1 meter.

Pengendalian reservoir lainnya adalah secara kimiawi dengan menggunakan bahan kimia yang mematikan atau mengganggu aktivitas makan minum atau reproduksinya. Rodentisida yang terdaftar di Komisi Pestisida adalah warfarin, brodifakum dll. Biasanya berupa umpan beracun (rodentisida), fumigasi/pengomposan, zat penarik/ attractant, zat penolak/ repellent dan pemandul/ chrmosterilant. Penggunaan rodentisida dapat dilakukan secara bijaksana, aman bagi manusia dan lingkungan.

Pengendalian secara biologi menggunakan parasite, pathogen dan predator, biasanya aplikasi diluar rumah seperti sawah dan kebun. Parasit yang digunakan berupa protozoa, sarcocystic, singaporensis. Predator yang banyak digunakan adalah burung hantu, burung elang dan mamalia.

Nah jangan lupa untuk selalu waspada dengan perubahan cuaca saat ini, selalu jaga kebersihan diri, lingkungan rumah dan sekitarnya serta juga tidak lupa meningkatkan daya tahan diri dengan banyak minum air putih, makan bergizi dan cukup istirahat. Protokol kesehatan yaitu cuci tangan dengan sabun atau desinfektan, menggunakan masker juga tetap harus menjadi hal yang diingat untuk dilakukan.

Jika anda mengalami gejala seperti tidak enak badan, demam, batuk, pilek atau keluhan lain yang anda rasakan, jangan lupa untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis. RSU Rajawali Citra selalu siap membantu anda dalam penanganan keluhan kesehatan anda. Poliklinik Umum dan Instalasi Gawat Darurat RSU Rajawali Citra buka 24 jam siap membantu anda. Poliklinik Spesialistik juga akan dapat membantu pelayanan keluhan anda sesuai kebutuhan seperti Poli Penyakit Dalam, Poli Anak, Poli Penyakit Syaraf, Poli Bedah, Poli THT, Poli Mata, Poli Urologi, Poli Kulit dan Kelamin, Poli Rehabilitasi Medik dan  Poli Gigi. Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi juga siap melayani anda 24 jam.

Salam sehat selalu untuk anda dan keluarga. Bersama RSU Rajawali Citra kita dukung Kesehatan yang Membahagiakan dan Kebahagiaan yang Menyehatkan.




Kembali