Membentuk kebiasaan hidup sehat pada anak perlu dimulai sejak usia sekolah. Sekolah bukan hanya tempat anak memperoleh pendidikan akademik, tetapi juga menjadi lingkungan penting untuk membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan dan tumbuh kembang. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi, minum air putih, aktif bergerak, menjaga kebersihan, dan beristirahat cukup dapat dikenalkan melalui kegiatan sehari-hari. Kementerian Kesehatan RI juga menempatkan anak usia pendidikan dasar sebagai kelompok yang perlu mendapatkan pelayanan kesehatan melalui kegiatan promotif, preventif, skrining kesehatan, penyuluhan, dan tindak lanjut sesuai kebutuhan (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2024)
- Biasakan mencuci tangan menggunakan sabun.
Mencuci tangan merupakan kebiasaan sederhana yang penting bagi anak. Biasakan anak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, setelah bermain, dan ketika tangan kotor. Kebiasaan menjaga kebersihan diri dapat membantu anak terhindar dari berbagai masalah kesehatan. Penelitian pada siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap mengenai kebersihan diri menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan praktik personal hygiene anak (Nurhayati & Wuri, 2020). Orang tua dan guru dapat memberikan contoh secara langsung sehingga mencuci tangan menjadi rutinitas, bukan sekadar aturan.
- Ajarkan anak untu memilih makanan yang bergizi.
Makanan yang dikonsumsi anak berperan dalam mendukung pertumbuhan dan aktivitas sehari hari. Anak perlu dikenalkan pada makanan yang beragam dan bergizi melalui menu keluarga maupun bekal sekolah. Kementerian Kesehatan RI menganjurkan penerapan prinsip gizi seimbang melalui konsumsi makanan yang beragam, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemantauan berat badan (Kementria Kesehatan Republik Indonesia, 2024). Bekal anak dapat terdiri dari makanan pokok, lauk sebagai sumber protein, sayuran, buah, dan air putih. Anak juga perlu diajarkan memilih jajanan yang bersih dan aman serta membatasi makanan dan minuman yang terlalu manis, asin, dan berlemak.
- Biasakan sarapan dan minum air putih.
Sarapan dapat menjadi bagian dari rutinitas sebelum anak memulai aktivitas belajar. Menu sarapan tidak harus mahal atau rumit. Makanan sederhana seperti nasi dengan telur dan sayuran, roti dengan telur dan buah, atau menu rumahan lainnya dapat menjadi pilihan. Selain sarapan, anak juga perlu dibiasakan minum air putih secara cukup. Membawa botol minum sendiri dapat membantu anak memenuhi kebutuhan cairan selama berada di sekolah sekaligus mengurangi kebiasaan mengonsumsi minuman manis.
- Ajak anak aktif bergerak.
Aktivitas fisik penting untuk mendukung kebugaran anak. Anak tidak harus selalu melakukan olahraga formal. Bermain, berjalan kaki, bersepeda, menari, permainan tradisional, dan aktivitas fisik lainnya juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan aktif. Di sekolah, aktivitas fisik dapat dilakukan melalui pelajaran olahraga, kegiatan ekstrakurikuler, permainan saat istirahat, senam, maupun aktivitas gerak sederhana di sela pembelajaran. Kementerian Kesehatan RI menempatkan aktivitas fisik sebagai salah satu bagian penting dalam penerapan gizi seimbang dan pola hidup sehat (Kementrian Kesehatan RI, 2024).
- Ajarkan kebersihan diri dan lingkungan.
Kebiasaan hidup sehat tidak hanya berkaitan dengan makanan dan olahraga. Anak juga perlu diajarkan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Anak dapat dibiasakan menggunakan toilet dengan baik, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan meja dan kelas, serta mengikuti kegiatan kebersihan lingkungan sekolah. Penelitian (Safitri, 2020) menunjukkan bahwa kondisi sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat. Kegiatan sederhana seperti piket kelas dapat menjadi sarana untuk mengajarkan tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan
- Batasi makanan kurang sehat dan penggunaan handphone.
Anak umumnya tertarik pada makanan ringan dan minuman manis. Orang tua tidak harus melarang seluruh makanan tersebut, tetapi perlu mengajarkan anak untuk mengatur pilihan dan frekuensi konsumsinya. Selain makanan, penggunaan gawai juga perlu diperhatikan. Waktu menggunakan perangkat digital sebaiknya diseimbangkan dengan belajar, bermain, aktivitas fisik, interaksi bersama keluarga, dan istirahat. Orang tua dapat membuat aturan penggunaan gawai yang konsisten dan memberikan contoh penggunaan teknologi secara bijak.
- Pastikan anak mendapatkan tidur yang cukup.
Tidur merupakan bagian penting dari pola hidup sehat. Anak membutuhkan waktu istirahat agar dapat menjalani aktivitas sekolah dan kegiatan sehari hari dengan baik. Orang tua dapat membantu dengan membuat jadwal tidur yang teratur, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, dan membatasi penggunaan gawai menjelang waktu tidur.Kebiasaan tidur yang baik sebaiknya diterapkan secara konsisten sehingga menjadi bagian dari rutinitas anak.
Peran Sekolah dan Orang Tua
Membentuk kebiasaan hidup sehat membutuhkan kerja sama antara sekolah dan keluarga. Sekolah dapat mendukung melalui kegiatan UKS, edukasi kesehatan, fasilitas sanitasi, aktivitas fisik, serta pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat. Penelitian (Ataqwa, 2020) menunjukkan bahwa pelaksanaan UKS berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat siswa sekolah dasar. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan dan program kesehatan sekolah dapat menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan sehat pada anak. Di rumah, orang tua dapat memperkuat kebiasaan tersebut dengan memberikan contoh. Anak akan lebih mudah menerapkan perilaku sehat apabila melihat orang-orang di sekitarnya melakukan hal yang sama.
Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Anak
Selain membangun kebiasaan sehat, kondisi kesehatan anak juga perlu dipantau secara berkala. Kementerian Kesehatan RI menetapkan pelayanan kesehatan anak usia pendidikan dasar mencakup skrining kesehatan minimal satu kali dalam satu tahun ajaran. Pemeriksaan dapat mencakup status gizi, tanda vital, kesehatan gigi dan mulut, ketajaman indera, serta pemeriksaan tertentu sesuai kebutuhan (Kementrian Kesehatan RI, 2024). Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila anak mengalami keluhan yang berulang, perubahan kondisi kesehatan, masalah pertumbuhan, atau kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.
Kesimpulan
Membentuk kebiasaan hidup sehat pada anak di sekolah dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi, sarapan, minum air putih, aktif bergerak, menjaga kebersihan, membatasi makanan kurang sehat dan penggunaan gawai, serta mendapatkan tidur yang cukup. Kebiasaan tersebut akan lebih mudah terbentuk apabila dilakukan secara konsisten dan didukung oleh lingkungan sekolah serta keluarga. Dengan membiasakan hidup sehat sejak usia sekolah, anak memiliki bekal penting untuk mendukung tumbuh kembang dan kesehatan mereka di masa mendatang.
Referensi
Ataqwa, L. (2020). Pengaruh Pelaksaan UKS Terhadap PHBS Siswa Sekolah Dasar Negeri Se-Kecamatan Alian. 1(2), 315–322.
Kementria Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Isi Piringku, Panduan Kebutuhan Gizi Seimbang Harian. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. https://ayosehat.kemkes.go.id/isi-piringku-kebutuhan-gizi-harian-seimbang
Kementrian Kesehatan RI. (2024). Profil Kesehatan. kKementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Nurhayati, R., & Wuri, S. (2020). Personal Hygiene Practices in 5 th Grade Elementary School Students. 5(2), 94–100.
Safitri. (2020). Kondisi Sanitasi Lingkungan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah Dasar. 4(Special 2), 392–403.